Membawa Layanan Kesehatan Taiwan ke Dunia
Beberapa minggu terakhir ini, jadwal saya hampir seluruhnya dipenuhi dengan kunjungan pertukaran dan ceramah di Kanada.
Kali ini saya mengikuti program pertukaran tim medis internasional Rumah Sakit Umum Veteran Taichung ke Kanada yang dipimpin oleh Wakil Direktur Yuan-Hua Chou. Selain memberikan layanan konsultasi kesehatan bagi komunitas Taiwan setempat, kami juga bertukar wawasan dengan University of Toronto, SickKids Hospital, dan University of British Columbia (UBC). Teman-teman di Toronto dan Vancouver menyambut dan mengatur seluruh perjalanan dengan sangat baik, sehingga program pertukaran ini berjalan sangat lancar.
Materi yang dibagikan kepada komunitas Taiwan mencakup terapi proton, pemeriksaan kesehatan, perawatan jantung, perawatan tulang dan sendi, serta layanan medis internasional. Yang ingin kami bagikan bukan hanya teknologi medis itu sendiri, melainkan pengalaman dan model perawatan yang telah dibangun sistem kesehatan Taiwan selama bertahun-tahun.
Salah satu kesan mendalam dari pertukaran kali ini adalah: Kanada tentu memiliki sistem kesehatan yang sangat maju, tetapi karena waktu tunggu yang panjang, banyak warga Taiwan di sana bercerita bahwa meskipun kondisi mereka sudah memengaruhi kualitas hidup, mereka tetap harus menunggu lama untuk mendapatkan pengobatan. Hal ini terutama berlaku untuk masalah tulang belakang atau sendi pada pasien lanjut usia. Tidak sedikit yang menyebutkan bahwa dokter setempat, dengan mempertimbangkan usia dan risiko, lebih memilih penanganan konservatif.
Dalam ceramah saya, saya juga menceritakan bahwa saya pernah melakukan operasi penggantian sendi pada seorang pasien berusia 117 tahun. Banyak anggota komunitas yang mendengarnya cukup terkejut. Ini bukan berarti mendorong agar orang lanjut usia harus menjalani operasi, melainkan menunjukkan bahwa dengan evaluasi menyeluruh, anestesi, rehabilitasi, dan kerja sama tim yang baik, bahkan pasien lanjut usia pun berpeluang menjalani pengobatan dengan aman dan memulihkan kualitas hidup mereka.
Selain itu, saya juga bertemu dengan banyak warga negara Taiwan yang telah lama tinggal di luar negeri. Karena pekerjaan, banyak dari mereka memiliki waktu yang sangat terbatas untuk benar-benar pulang ke Taiwan, sehingga mereka lebih membutuhkan perawatan medis yang efisien dan menyeluruh. Hal ini membuat saya semakin menyadari bahwa layanan kesehatan Taiwan tidak hanya melayani masyarakat di dalam negeri, tetapi juga diam-diam memenuhi kebutuhan kesehatan banyak warga Taiwan di luar negeri.
Begitu mendarat di Taiwan, saya langsung bergegas menuju gerbang keberangkatan penerbangan ke Kobe. Ini adalah pertama kalinya saya kembali ke Taiwan hanya untuk transit. Dua minggu berikutnya masih ada agenda kongres tahunan Japanese Orthopaedic Association (JOA) dan kongres tahunan Asia Pacific Spine Society (APSS).
Terus melakukan pertukaran dan pembelajaran bukan hanya untuk berbagi pengalaman dan teknik, tetapi juga agar lebih banyak teman di luar negeri mengetahui bahwa Taiwan kini sudah mampu memberikan perawatan medis yang sangat matang dan menyeluruh.