Lokasi Gejala Belum Tentu Sumber Masalahnya
Di ruang praktik, ada anggapan yang terdengar "sangat masuk akal" tetapi perlu dipikirkan lebih lanjut.
Misalnya nyeri bahu disertai kebas pada tangan, banyak pasien langsung mengasosiasikannya dengan tulang leher; nyeri punggung bawah dan ketidaknyamanan pada kaki juga mudah dianggap sebagai masalah tulang belakang lumbal. Pemikiran seperti ini sebenarnya sangat wajar, tetapi secara klinis, lokasi munculnya gejala tidak selalu sama dengan sumber masalah yang sesungguhnya.
Berikut beberapa pola yang sering saya jumpai.
Nyeri bahu, tidak sedikit yang sebenarnya berasal dari masalah pada sendi bahu itu sendiri, khususnya kelainan pada rotator cuff (manset rotator). Masalah semacam ini membuat pasien merasa sangat tidak nyaman saat mengangkat tangan, saat mengerahkan tenaga, atau saat tidur miring di malam hari, dan karena lokasi nyerinya dekat dengan leher, sering kali disalahartikan sebagai penekanan saraf tulang leher. Jika fokus awal hanya pada pencitraan tulang leher, justru bisa mengabaikan area yang sebenarnya perlu ditangani.
Kebas pada tangan juga mengalami pola serupa dan tidak selalu berasal dari tulang leher. Secara klinis, sebagian besar kasus disebabkan oleh penekanan saraf tepi seperti carpal tunnel syndrome (sindrom terowongan karpal). Jika pergelangan tangan dan saraf tepi tidak ikut dievaluasi, dan hanya melihat pencitraan tulang leher, penilaian dapat dengan mudah salah arah.
Nyeri punggung bawah dan nyeri kaki bahkan lebih sering demikian. Gejalanya terlihat sangat mirip masalah tulang belakang lumbal, dan setelah dievaluasi lebih lanjut, sumbernya bisa berasal dari sendi panggul. Degenerasi sendi panggul, bahkan beberapa patah tulang panggul yang tidak terlalu jelas, dapat menunjukkan gejala berupa nyeri saat berjalan, tidak tahan berdiri lama, dan ketidaknyamanan pada kaki, yang tampak sangat mirip dengan masalah saraf tulang belakang lumbal. Jika sendi panggul tidak dimasukkan dalam pemeriksaan sejak awal, fokus pengobatan bisa keliru.
Situasinya juga bisa terjadi sebaliknya: ada pasien yang mengira masalahnya ada di sendi bahu atau sendi panggul, tetapi setelah dievaluasi ternyata sumbernya ada pada tulang belakang. Pola gejala sering kali saling tumpang tindih, sehingga jika sejak awal sudah berprasangka, akan mudah mengabaikan area yang perlu ditangani.
Karena itu, di ruang praktik saya sering menjumpai pasien yang sejak awal sudah menentukan bagian mana yang ingin difoto rontgen, atau bertanya dengan bingung ketika saya menyarankan foto di bagian lain, "Bagian itu seharusnya tidak ada masalah, kenapa perlu difoto?" Saya memahami pemikiran seperti ini, karena lokasi yang terasa tidak nyaman sering kali membuat orang secara naluriah menganggap masalahnya ada di situ.
Dalam evaluasi ortopedi, pemeriksaan pencitraan memastikan bagian yang sudah dicurigai bermasalah, sekaligus membantu menyingkirkan sumber masalah yang mungkin terabaikan. Oleh karena itu, cakupan pemeriksaan yang saya sarankan terkadang tidak sepenuhnya sama dengan yang diharapkan pasien. Saya menghargai apa yang dirasakan pasien, hanya saja saya ingin melihat kondisi secara menyeluruh terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan.
Sebelum mengambil kesimpulan, saya mempertimbangkan gejala, pemeriksaan fisik, dan pencitraan secara bersamaan, tidak bergantung pada satu gejala atau satu hasil pencitraan, dan melihat keseluruhan diri pasien. Setelah sumber masalah diperjelas, pemeriksaan dan pengobatan selanjutnya baru dapat berjalan pada arah yang tepat.